Friday, 25 March 2016

, ,

[Review Buku] Jika Hujan Pernah Bertanya

“Tinggallah di sini lebih lama lagi. Bersamaku saja. Berbagi kesetiaan.” Hal 5


Judul Buku : Jika Hujan Pernah Bertanya 
Penulis : Robin Wijaya
Ilustrasi Sampul : Apung Donggala
Tata Letak : Husni Kamal
ISBN : 9786021258644
Penerbit : Matahari
Tahun Terbit : Februari, 2014
Tebal : 224 halaman
Genre : Romance, Kumcer
Rate : 4/5

Blurb

Aku tak pernah berpikir kalau segalanya akan berakhir padamu. Sejak dulu, sejak kali pertama kita bertemu, kau bukanlah satu-satunya yang kuanggap istimewa.

Kalau kubilang segalanya kebetulan, mungkin salah. Kalau kubilang itu karena takdir saja, mungkin tak selamanya benar. Ada hal lain, yang membuatku yakin dengan keputusanku. Kau melakukan sesuatu, yang mustahil bagi setiap orang.

Kau mencintaiku dengan hati, kau menatap mataku karena rasa, kau berucap dan melakukan semuanya bukan dengan kebanyakan cara yang mereka lakukan. Kau berbeda. Kau istimewa.

Bersamamu saja, aku yakin selamanya. Karena aku tahu, aku tak butuh wajah untuk dinikmati, aku tak butuh tawa untuk sekedar menyenangkan, apalagi penampilan yang bisa dibilang hanya memesonakan.

Ada yang lebih dari itu. Yaitu, hati dan kesetiaanmu. Bukankah tempat untuk mencintai secara pasti hanyalah ‘hati’? Bukankah dari ratusan kriteria yang aku cari sebagai sempurna, sebenarnya aku hanya perlu satu saja? Aku bukan mencari sesuatu yang lengkap, tapi pelengkap.

Kau, adalah tempat terbaik untuk berbagi. Seperti awan yang setia pada hujan.


Review

Jika Hujan Pernah Bercerita, kumpulan cerita pendek yang mengisahkan tentang kesetiaan. Setia pada orang yang dicintainya, walaupun seringkali orang itu tidak bisa dimiliki selamanya. Kesetiaan pada seseorang, sesuatu, atau bahkan prinsip yang dipegangnya.

Setiap cerita yang ditulis Robin Wijaya dalam buku ini menarik karena memiliki sudut pandang yang berbeda. Dikisahkan melalui karakter yang beragam dan gaya bercerita yang berbeda pula. Sebagian besar cerita dituliskan dengan tokoh utama perempuan.

Aku tertarik dengan buku ini karena judul dan covernya. Dua perahu kertas berwarna biru dan merah pada cover-nya mengingatkanku pada cover novel Perahu Kertas. Tapi selain itu ada seorang lelaki yang memegang payung dan siluetnya yang mereperentasikan hujan.

Terdiri dari 14 cerita, beberapa cerpen favoritku adalah Jika Hujan Pernah Bertanya, Di Satu Sudut Ruang Itu, Afternoon Delight dan Pertiwi.

Jika Hujan Pernah Bertanya. Cerita utama dalam kumpulan cerpen ini mengisahkan tentang Rahita dan Philip. Perkenalan tanpa sengaja yang kemudian berlanjut menjadi teman. Cerita yang merepresentasikan tentang kesetiaan dengan filosofi awan dan hujan.

“Kesetiaan seperti awan. Menemani hujan sepanjang zaman, tak tergantikan.” Hal 35

Di Satu Sudut Ruang itu. Cerita ini pernah dibagikan oleh penulis di akun Wattpadnya, Robin Wijaya. Tentang seorang barista yang memiliki pelanggan unik yang membuatnya tertarik. Seorang pria yang datang setiap hari Rabu malam dengan pakaian hitam dan rutinitas yang sama. Cerita ini menarik karena pembaca dibuat penasaran dengan kisah barista dan pria misterius itu. Aku kira hanya kisah cinta biasa, tapi aku dibuat terkejut dengan twist ending yang diberikan penulis.

“...karena kehadiranmu serupa bayang senja di penghujung hari. Yang selalu kuketahui begitu saja. Meski kedatanganmu seolah terjadwal di waktu yang sama.” Hal 60

Afternoon Delight. Ada perasaan sesak yang mendalam saat membaca kisah ini. Tentang si laki-laki dan si perempuan yang bertetangga dan tumbuh bersama. Kebersamaan yang membuat mereka saling mengerti perasaan masing-masing. Tapi mereka harus berpisah karena kepergian si perempuan.

“Teman adalah seseorang yang benar-benar bisa bicara dalam satu pikiran dengannya.” Hal 90

Pertiwi. Cerita tentang seorang jurnalis yang mewawancarai seorang ibu yang harus kehilangan anaknya saat kerusuhan 1998. Cerpen ini sukses membuatku menangis haru. Selain karena kisahnya berlatar peristiwa tahun 1998 itu, pembaca juga dibuat emosional dengan kehilangan yang dirasakan sang ibu.

“ Saya cinta negeri ini.” Hal 184

Kesetiaan pada pasangan yang sangat mengharukan ada dalam cerpen Belahan Jiwa. Sebuah cerita tentang cinta sejati, cinta yang hanya bisa dipisahkan oleh maut. Kisah Sarah yang takut kehilangan Jo suatu hari nanti. Dicerita itu tak ada dialog, hanya monolog tapi mampu membuat pembacanya merasakan arti kesetiaan dan takut kehilangan pasangan.

“Rasa percaya dan sebuah ruang nyaman adalah satu-satunya yang menjadi alasan mereka untuk bertahan dari waktu ke waktu.” Hal 83-84

Cerita lainnya dalam buku ini yaitu. Manusia Bodoh, Menjaga Ibu, Love Me Tender, Ruang Kecil, Cintaku Lelakiku, Cerita Tentang Jatuh Cinta, Senja, Di Atas Pelangi, Cinta Monyet, dan Cinta yang Bercakap-Cakap.

Quote Favorite

  1. “Tentang mereka yang selalu berjanji untuk berbagi waktu dan kesempatan. Meski tak selalu bahagia.” Hal 8
  2. “Kata kelak telah menjadi kosakata yang bermakna seperti pengharapan.” Hal 17
  3. “Aku percaya, yang terbaik dari seorang manusia bukan sekadar tumbuh dan berkembang, tapi membawa orang lain ikut berkembang juga. Hal 24
  4. “Sebagian besar orang tentu setuju kalau keakraban antara lelaki dan perempuan tak pernah benar-benar tanpa arti.” Hal 27
  5. “Karena manusia adalah mesin refleksi terbaik yang tak akan mampu menyembunyikan sesuatu yang paling rahasia.” Hal 28
  6. “Selalu ada kenangan dimana kamu tak ingin ia berlalu meninggalkanmu, meski segala yang disebut kenangan pasti tentang sesuatu yang sudah berlalu.” Hal 80
  7. “Karena yang terjadi pada kisah cinta, tak pernah ada bahagia tanpa cela.” Hal 81
  8. “Berteman tanpa alasan, tanpa tujuan, tanpa keharusan.” Hal 92
  9. “Pada akhirnya, tidak ada manusia yang benar-benar akan bersama selamanya.” Hal 99
  10. “Dan kalau memang rindu padanya, setialah pada harapanmu.” Hal 109
  11. “Bahagia adalah sebuah perasaan yang diciptakan oleh rasa percaya.” Hal 141
  12. “Kemewahan sering kali di dapat dari kesederhanaan.” Hal 141
  13. “Perbedaan antara ketergantungan dan cinta sangatlah tipis.” Hal 167 
Happy reading ^^
***

Share:

4 comments:

  1. Ini pertama kalinya saya main ke sinu. Salam kenal blogger Pekalongan juga

    ReplyDelete
  2. Sempet mau beli buku ini. Dan mungkin next time harus kebeli hihih

    ReplyDelete
  3. Keren isi bukunya. Diksi nya benar - benar sangat menarik.

    ReplyDelete

Terima kasih sudah mampir ke blog ~Sulung Stories~ Silahkan tinggalkan jejak ^^