Monday, 29 February 2016

,

[Surat Cinta #30] Dear Bang Ravi

 
Dear Bang Ravi,
malaikat tanpa sayap yang dikirim Tuhan untuku.


Apa kabar, Bang? Ah, sepertinya tak perlu kutanya kabarmu. Karena aku tahu pasti, kau baik-baik saja di sana. Di tempat terindah bersama orang-orang yang kusayang.

Aku merindukanmu, Bang. Bukan sekedar kerinduan di bibir yang sekadarnya terucap saat kita berjauhan. Tapi juga kerinduan jauh di sudut hatiku. Ketidakhadiranmu di sampingku membuat hari-hari kembali sepi. Jauh lebih sepi melebihi waktu sebelum kau datang di hidupku.

Kita memang sering berpisah, jarak dan waktu. Untuk mengejar mimpimu di negeri seberang. Berhubungan hanya lewat alat canggih yang manusia ciptakan. Bahkan pertemuan kita pun bisa dihitung dengan jari.

Masih ingatkah Abang dengan pertemuan-pertemuan itu?

Jangan tanya denganku, aku masih ingat semua kenangan itu bang. Pertemuan pertama kita yang canggung. Mengingat itu membuatku malu sendiri. Tapi tak bisa kupungkiri dari sanalah aku mulai mengenal kata Abang. Hal yang bertahun-tahun lalu kumimpikan.

Namun pada pertemuan pertama itu juga kita harus langsung berpisah. Hari itu, hari keberangkatanmu ke Jepang untuk mengejar mimpimu belajar di negeri idolamu lahir. Masih terekam jelas dalam memoriku, penyesalan yang tergurat di wajah sendumu.

Waktu bergulir menghadirkan pertemuan yang menyenangkan, walaupun kita jarang hanya berdua. Tetapi kamu mampu membuatku merasakan kasih sayang seorang kakak. Lalu perpisahan itu harus tetap terjadi, kamu kembali ke negeri sakura karena liburanmu telah usai.

Namun perpisahan ini terasa sangat berbeda. Tak seperti perpisahan yang sudah-sudah di bandara Soekarno-Hatta. Tak ada perjumpaan yang mengawali perpisahan kita. Semua terjadi tiba-tiba dan mengejutkan.

Perpisahan itu, bukan lagi jarak dan waktu, tapi sesuatu yang tak lagi bisa dipertemukan.

Bang, apakah kau sudah bertemu Bunda di tempat barumu? Aku titip salam untuk Bunda ya. Sudah dua puluh tahun, sejak aku lahir, belum pernah aku bertemu langsung dengannya. Hanya lewat foto yang diperlihatkan Ayah padaku ketika aku merindukannya.

Salam juga untuk Ayah, beliau menyusul Abang empat hari setelah abang pergi. Itu tanda bukti sayang Ayah pada Abang, meski kalian tak sedarah. Aku jadi iri dengan Abang bisa bertemu dengan dua orang yang kusayang.

Tapi aku tidak akan pergi sekarang, bukan karena tak menyayangi Abang, Ayah juga Bunda. Tetapi karena ada Mama Ety, Bunda kandung Bang Ravi yang harus kujaga.

Tahukah Abang, betapa sayangnya Mama padaku? Sepertinya melebihi perhatian beliau pada Abang. Jangan iri ya, Bang.

Bang Ravi, sudah dulu ya. Mama sudah berulang kali memanggilku. Kue yang beliau buat mungkin sudah siap untuk aku cicipi. Sekarang Mama sedang rajin mencoba resep baru, Bang. Benar kata abang dulu, kue mama memang kue terlezat yang pernah aku cicipi.

Bang Ravi, I will always miss you...

Salam cinta,
dari Sasa, gadis beruntung yang pernah memiliki kakak seperti Abang.
Share:
Read More

Sunday, 28 February 2016

, ,

[Wishful Wednesday #1] IEP


Wishful Wednesday

Aku sudah sering melihat postingan tentang WW dari beberapa tahun lalu. Tapi cuma bisa pantengin para blogger buku itu, karena aku kira hanya blog buku yang bisa ikutan. Nah, Books to Share sebagai host meme Wishful Wednesday lagi bikin giveaway dalam rangka ulang tahun WW yang ke-4.

Buku yang sedang menjadi wish-ku kali ini, yaitu:

Inteligensi Embun Pagi (Supernova #6) by Dee Lestari
Bisa dibeli di sini.

Goodreads Blurb

Setelah mendapat petunjuk dari upacara Ayahuasca di Lembah Suci Urubamba, Gio berangkat ke Indonesia. Di Jakarta, dia menemui Dimas dan Reuben. Bersama, mereka berusaha menelusuri identitas orang di balik Supernova.

Di Bandung, pertemuan Bodhi dan Elektra mulai memicu ingatan mereka berdua tentang tempat bernama Asko. Sedangkan Zarah, yang pulang ke desa Batu Luhur setelah sekian lama melanglangbuana, kembali berhadapan dengan misteri hilangnya Firas, ayahnya.

Sementara itu, dalam perjalanan pesawat dari New York menuju Jakarta, teman seperjalanan Alfa yang bernama Kell mengungkapkan sesuatu yang tidak terduga. Dari berbagai lokasi yang berbeda, keterhubungan antara mereka perlahan terkuak. Identitas dan misi mereka akhirnya semakin jelas.

Hidup mereka takkan pernah sama lagi.

Alasan aku pengen buku ini, karena punya buku pertama dari seri Supernova, yaitu Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh. Juga sudah membaca Supernova #2 sampai #4. Untuk Supernova #5 Gelombang masih nunggu giliran baca di perpusda, karena sering keduluan sama peminjam lain.

Semoga aku beruntung bisa dapetin buku ini plus ttd dari Dee Lestari. Yang mau ikutan, bisa langsung di cek di blog Books to Share yaa.
Share:
Read More

[Surat Cinta #29] Surat Cinta untuk @ikavuje



Untuk merpati putihku yang setia mengantarkan semua surat-suratku...

Dear kak Ikavuje. Hai, apa kabar kak? Semoga dalam keadaan sehat dan happy selalu ya.

Sudah hampir tiga puluh hari kita berkenalan, sejak project #30HariMenulisSuratCinta ini diselenggarakan. Lewat surat-surat yang aku tulis untuk orang lain, kita terhubung. Seperti merpati putih yang dulu digunakan sebagai pengantar surat, seperti itulah dirimu.

Kak Ikavuje, terima kasih banyak sudah setia mengantarkan semua surat-suratku. Surat yang lebih pantas disebut surat perpisahan dari pada surat cinta.

Semoga setelah project ini selesai, kita bisa melanjutkan hubungan pertemanan ini. Kak Ikavuje maukan jadi temanku?

Salam cinta,
dari penulis surat-surat galau.
Share:
Read More

Saturday, 27 February 2016

[Surat Cinta #28] Surat Cinta untuk Ibuk dan Bapak



Untuk dua malaikat tanpa sayap yang Tuhan kirimkan buatku...

Bulan kemarin genap dua puluh dua tahun usiaku. Itu artinya hari ini, dua puluh dua tahun sepuluh bulan kita bersama. Sejak dari dalam rahimmu Ibuk, aku merasakan kasih sayang yang Ibuk dan Bapak berikan.

Bahkan kasih sayang yang berlimpah ruah setelah aku lahir. Aku bukan saja putri kesayangan kalian. Sejak aku hadir di dunia, aku bukan hanya jadi putri kebanggaan kalian, ponakan perempuan yang menggemaskan dan cucu pertama kesayangan mbah putri dan mbah kakung. Tapi juga gadis kecil kesayangan orang-orang disekitarku.

Aku tak pernah menyadarinya, sampai suatu hari Ibuk dan Bapak dengan bangga menceritakan masa kecilku. Aku yang lucu, manis, dan sipit. Aku yang sering menghilang ketika duduk sendirian di depan rumah. Karena dibawa jalan-jalan sama tetangga rumah yang gemas melihatku.

Aku yang kalian banggakan.

Terima kasih tak terhingga untukmu, Ibuk dan Bapak. Terima kasih untuk kasih sayang, ketulusan, dan pengorbanan yang kalian berikan untukku. Sebanyak apa pun balasanku untuk kalian, takkan pernah menggantikan segala rasa yang kau berikan padaku.

Kata orang, kasih sayang orang tua sepanjang hayat dan kasih sayang anak akan memudar seiring ia dewasa. Tapi percayalah ibu dan Bapak, aku akan menyayangimu sepanjang usiaku, hingga maut memisahkan kita.

Mungkin kita takkan lagi ngobrol secara intens. Mungkin kita takkan lagi duduk di depan teve dan berdebat tentang isu yang sedang hangat. Mungkin kita takkan lagi berada dalam satu rumah. Mungkin kita akan terpisah jika aku mengikuti suamiku kelak.

Tapi Ibuk dan Bapak jangan pernah merasa kehilangan putri kecilmu ini. Aku akan selalu ada untuk kalian. Aku akan selalu mendampingi kalian dengan doa-doa yang kupanjatkan kepada Tuhan.

Ibuk, selalu sehat dan jangan lupa pakai pakaian hangat ketika musim hujan tiba. Jangan terlalu keasyikan di dapur, mungkin sekali-kali bisa makan berdua saja dengan Bapak di luar. 


Bapak, jangan keseringan begadang dan ketiduran di depan teve yang menyala. Jangan terlalu asyik dengan pekerjaan, hingga hari libur pun tetap ke sekolah. 


Salam cinta,
dari putri kecilmu yang beranjak dewasa.
Share:
Read More

Friday, 26 February 2016

, ,

Cerita Awal Ngeblog


Hola!

Aku ingin bercerita tentang awal perjalananku menjadi blogger. Ehhh, aku agak malu kalo disebut blogger. Karena ketidakkonsistennya aku menulis di blog. Hehehe.

Aku mengenal dunia blogging sejak pertengahan tahun 2011. Saat itu sedang keranjingan dengan komputer dan internet. Maklum, baru dapat hadiah komputer dari Bapak. Juga untuk mengisi waktu luang, saat itu baru lulus SMA dan sedang menunggu pengumuman masuk universitas. Lumayan lama, sekitar dua bulan nganggur di rumah.

Awalnya internet hanya aku gunakan untuk mendownload lagu-lagu yang sedang booming, tahukan yang download lagu harus nunggu 100-an detik itu? Lagu-lagu yang tren saat itu adalah lagu dari boys dan girls band.
 
Gambar dari sini

Dan aku mengakui saat itu, aku menyukai boyband SMASH. Dari sanalah awal aku ngeblog. Mulai mencari tahu segala tentang SMASH dari blog-blog yang sudah ada. Kemudian mulai menuliskan lirik lagu, fakta-fakta seputar personil SMASH, dan mencantumkan video mereka di blog.

Tapi itu tak bertahan lama dengan memudarnya kepopuleran masa boys dan girls band. Aku mulai jarang ngeblog dan akhirnya menghapus blog itu. Waktu itu juga mulai aktif kuliah dan ikut UKM teater, hingga nggak punya banyak waktu.

Ini mah cuma alasan. Hehehehe...

Sempat beberapa membuat blog dan menghapusnya. Akhirnya aku membuat blog Sulung Stories dengan url sulungstories.blogspot.com. Blog itu berisi curhatan tentang cinta dan tulisan-tulisan fiksi karyaku.

Jarang mendapat kunjungan dan komentar membuatku malas ngeblog lagi. Waktu itu juga nggak pernah share postingan di akun media sosial. Juga nggak ngerti tentang SEO, sampai sekarang juga masih belajar tentang itu.

Blog itu lagi-lagi gulung tikar, ehhh. Aku nggak menghapus blog itu, hanya tidak dipublish. Kalau baca blog itu jadi malu sendiri. Isinya seperti diary online.

Setelah lama nggak ngeblog dan lagi-lagi karena punya waktu luang yang banyak. Mulai sering buka sosmed dan info dari blogger-blogger kece. Jadi iri dengan mereka yang bisa konsisten nulis. Apalagi dengan demam FOMO.



Akhirnya Desember 2015 aku membuat blog baru dengan nama yang sama, Sulung Stories. Tapi dengan url yang berbeda. Sepertinya aku belum bisa move on dari nama itu.

Blog yang sekarang kamu baca inilah hasilnya.

Tujuan awal membuat blog Sulung Stories adalah untuk mempublikasikan tulisan-tulisan fiksi yang menghuni laptopku. Semoga bisa konsisten nulis, bukan hanya tulisan fiksi tapi juga artikel atau tulisan non fiksi lainnya. Semoga.

Aku belum tahu akan seperti apa blog ini nantinya. Tapi aku berjanji pada diri sendiri untuk terus menulis. Konsisten dengan niat awal ngeblog dan berbagi dengan teman-teman di dunia maya ini.

"Tulisan ini diikutsertakan dalam Blogger Kekinian Challenge: Februari yang diselenggarakan oleh Blogger Kekinian"

http://www.bloggerkekinian.com/2016/02/blogger-kekinian-challenge-februari.html

Share:
Read More

[Surat Cinta #27] Untuk Kamu yang Membiarkanku Pergi



Untuk kamu yang bersamaku dalam waktu singkat...
Untuk kamu yang membiarkanku pergi...
Untuk kamu yang masih saja mengirim kabar, walau tak pernah kubalas...

Dulu pertama kali kita bertemu, masih sangat muda untuk mengenal kata cinta. Di bangku menengah pertama. Dua kali kita ditempatkan dalam satu kelas. Tapi tak pernah ada interaksi lebih, bahkan untuk bertegur sapa.

Kita hanya ibarat saling tahu, tapi tak benar-benar saling mengenal. Kamu berbeda dari cowok-cowok sekelas kita lainnya. Kamu pendiam dan tak banyak tingkah, tapi punya prestasi yang bagus.

Ada rasa sedikit kagum pada dirimu kala itu.

Sampai bertahun-tahun kemudian kita bertemu lagi di media sosial, facebook. Kita berada di kota yang berbeda. Mengerjar mimpi kita masing-masing. Beberapa kali berinteraksi di facebook dan memutuskan bertemu. Reuni kecil, kataku.

Kedekatan kita menumbuhkan rasa. Rasa yang lebih dari kagum.

Segalanya berjalan begitu saja tanpa ikatan. Tapi kita merasa sama-sama tahu akan perasaan dan hubungan yang dijalani bersama. Hubungan yang menurutmu akan berlabuh empat atau lima tahun lagi dalam sebuah janji suci.

Namun belum sampai empat bulan, badai pertama datang dan memporakporandakan kapal yang sedang kita bangun. Aku terhempas dan menyadari sebuah kenyataan. Sebuah rasa yang aku kira cinta, ternyata bukan apa-apa.

Rasa sedikit kagumku padamu hanya meningkat pada tingkat kagum saja.

Tak pernah ada rasa lebih dari kagum. Apalagi rasa yang disebut cinta dan sayang. Seperti yang kau tunjukkan padaku selama ini. Rasa suka yang kau bilang sejak masa putih biru itu, tak bisa kubalas.

Maaf. Berhentilah menungguku, karena kau pantas dapatkan yang lebih baik.

dari aku yang memilih pergi.
Share:
Read More

Thursday, 25 February 2016

[Surat Cinta #26] Aku dan Kamu, Bukan Kita (4)


Kisah baru tentang kita...

"Lama tak jumpa..."

Itu kalimat pertama yang aku ucapkan ketika bertemu denganmu lagi. Satu atau dua tahun lalu sejak pertemuan terakhir itu. Pertemuan yang menghadirkan rindu berkali-kali lipat.

Rindu itu masih ada. Karena jarak dan waktu yang setia memisahkan kita. Bukannya aku tak mau melalui jarak yang terbentang. Bukan pula kamu tak mau meluangkan waktu untuk kita. 

Kini aku dan kamu punya priotitas masing-masing. Kamu dengan jarum suntik, bangsal rumah sakit dan piket malam. Aku dengan tumpukan kertas dan buku-buku juga revisi skripsi yang belum berujung.

Tapi kemarin, kita akhirnya bertemu. 

Saat pandangan pertama, aku langsung bisa mengenalimu. Kamu juga seperi itu, kukira karena kita masih setia berkirim kabar juga mengupdate info melalui sosial media. 

Sempat terkagum sekejap saat melihat satu sama lain. Lalu tawa itu berderai. Kamu masih sosok yang sama, pun dengan aku. 

Namun kini, aku siap membuka kisah baru tentang kita. 

Kita yang tetap akan menjadi kita. Kita yang tidak akan terpisah oleh kata putus. Kita yang akan berbagi kisah suka dan duka. Kita yang terus bersama hingga menemukan pendamping hidup.
Share:
Read More

Wednesday, 24 February 2016

[Surat Cinta #25] Aku dan Kamu, Bukan Kita (3)

 
Untuk lelaki pengagum warna putih, yang kupanggil sayang, tapi memanggilku sobat...

Aku tahu surat ini takkan mungkin sampai ketanganmu. Tapi izinkan aku bercerita kepadamu lewat tulisan yang akan ku larungkan bersama sampah di selokan kecil depan rumahku.

Ini cerita tentang aku dan kamu, tapi bukan kita.

Kamu dalam balutan jas putih dan stetoskop di tangan. Pernah kulihat di loby rumah sakit tersenyum ramah. Berbincang dengan anak kecil dengan perban di tangannya. Wajah teduhmu menghadirkan kedamaian. Kedamaian yang sama dihadapanku, empat tahun lalu.

Kedamaian yang dulu selalu kamu hadirkan dalam hidupku. Tiba-tiba berubah menjadi kecemasan dan kegelisahan. Perjumpaan yang jarang menjadi penyebabnya. Dulu, enam jam dalam sehari, enam hari dalam seminggu, aku dan kamu bersama. Kini, jangan tanya berapa waktu yang kupunya bersamamu. Hampir tak ada.

Dua minggu sekali kamu baru bisa menemuiku. Itu pun hanya dua jam di sabtu malam. Karena lebih banyak waktu yang kamu habiskan bersama teman-temanmu. Kesibukan kuliah dan banyak tugas menjadi alasanmu.

Setengah tahun berjalan, kamu mulai tak ada waktu untukku. Praktek di rumah sakit di malam hari dan segunung aktifitasmu di luar sana lagi-lagi menjadi alasannya. Masih ada sms, telepon, dan facebook, katamu. Aku maklum, semangatmu mengejar cita-cita membuatmu jarang menemuiku.

Hingga aku tersadar, sudah dua bulan kamu tak menemuiku. Tak juga ada sms dan telepon darimu. Aku terus menunggu. Bahkan tepat di hari ulang tahunku, tak ada lagi kejutan kue ulang tahun darimu. Hanya ucapan selamat ulang tahun dan permintaan maaf lewat sms sehari setelahnya.

Hari berikutnya, aku habiskan untuk terus mengingatmu. Lewat kenangan, lewat potongan-potongan kejadian yang aku dan kamu lalui bersama. Kegelisahanku bertambah besar.

Empat tahun  berlalu, sejak perkenalan pertama di tingkat dua dengan seragam putih abu-abu. Rasa yang kumiliki, diam-diam semakin besar. Kebersamaan yang kamu rajut bersamamu. Tanpa sadar membuatku merasa memilikimu. Hingga kamu menyadarkanku dengan kenyataan yang bertentangan dengan harapanku.

Malam itu disebuah resepsi pernikahan seorang teman, aku melihatmu mengandeng mesra seorang gadis. Kamu menyapaku dan memperkenalkannya sebagai kekasihmu. Aku mengumbar senyum palsu.

"Doain ya sob, biar cepet nyusul ke pelaminan." Aku membeku.

Empat tahun aku dan kamu, tapi tak pernah menjadi kita. Tapi baru empat bulan kamu dan dia menjadi kami. Empat tahun berlalu, cinta yang tak berbalas ini harus diakhiri. Walau bukan akhir yang indah. Tapi biarkan kenangan akan dirimu hanyut bersama tumpukan sampah menuju laut.

dari perempuan pengagummu,
yang kau panggil sobat, tapi memanggilmu sayang...
Share:
Read More

Tuesday, 23 February 2016

[Surat Cinta #24] Aku dan Kamu, Bukan Kita (2)


Untuk kamu yang terlalu jauh dariku...

Februari yang penuh kasih mengantarkan ingatanku kepadamu.

Hari-hari yang kita lewati bersama, empat tahun lalu. Saat kita sama-sama memakai seragam putih abu-abu. Aku mengenalmu lewat cerita sahabatku, yang dulu menyukaimu. Lalu ditingkat berikutnya, kita satu kelas. Tak ada perasaan apapun waktu itu. Karena kamu terlalu jauh dariku.

Kamu, seseorang yang dikagumi banyak orang. Dengan ketampananmu, kepandaianmu dalam bergaul dan daya pikatmu tentunya. Semua berjalan seperti biasanya. Kamu hanya teman sekelas seperti yang lain.

Tapi perkiraanku salah. Ternyata kamu dekat denganku, hanya berjarak dua meja dari mejaku. Kamu, orang yang mudah dekat dengan siapa saja, begitu pula denganku. Kebersamaan itu pun terjalin. Kamu, aku dan teman-teman yang lain, sering menghabiskan waktu bersama. Hingga semua orang mengira ada hubungan spesial diantara kita.

Tapi kamu dan aku tetap seperti ini. Kedekatan kita tak pernah naik level. Kamu sebut hubungan kita spesial, lebih dari seorang teman.

Sahabat. 

Kita sama-sama tahu, ada rasa lebih dalam hati. Tapi kita tak pernah melewati batas persahabatan. Karena kamu takut menghancurkan persahabatan diantara kita.

Kamu terlalu jauh dariku. Terlalu sulit untuk aku gapai. Maka aku memutuskan melangkah di jalan yang berbeda. Walau sesekali aku masih mencari tahu tentang hatimu.

dari aku yang merasa dekat.
Share:
Read More

Monday, 22 February 2016

[Surat Cinta #23] Aku dan Kamu, Bukan Kita (1)

Surat ini terdiri dari empat bagian, surat-surat pertamaku untuk kamu. Surat yang kutulis beberapa tahun yang lalu. Surat yang tak pernah sampai di tanganmu. Surat yang hanya tersimpan sebagai draf di blog ini.

Kuberanikan diri mempostingnya, semoga suatu hari nanti kamu membacanya.



Untuk seseorang yang lalu,
Untuk kamu yang pernah menjadi bagian dari kita...

Hai, apa kabar? Aku yakin kamu baik-baik saja. Dimana pun kamu sekarang, dengan atau tanpaku. Kuharap kamu bahagia dengan pilihanmu.

Sudah lama aku tak mendengar kabarmu. terakhir kali kubuka timeline facebook mu -dua tahun yang lalu- kamu kembali ke kota kelahiranmu. Setelah itu, kamu menghilang. Tak ada lagi statusmu atau kabar keberadaanmu.

Itu bukan yang pertama, kamu sering melakukan itu. Sudah tak menarik lagi bagiku. Menghilang tiba-tiba dan kembali padaku. Tanpa rasa bersalah, bercerita tentang 'petualanganmu' selama menghilang dariku. Aku akan sangat antusias mendengar ceritamu. Lalu menempel padamu sepanjang waktu. Itu terjadi berulang-ulang kali.

Dua tahun yang lalu, kamu kembali 'berpetualang'. Kali itu kamu menceritakan rencana 'menghilangmu'. Waktu itu aku tak tahu harus bagaimana, sedih atau merelakanmu pergi.

Tak ada firasat. Tak juga ada kabar darimu setelah itu.

Hingga aku menemukan sebuah foto di timeline facebook mu. Mataku menjelajahi permukaan foto itu, dan hatiku lebih cepat meresponnya. Tak sampai satu detik, hatiku melihat kamu diujung foto itu. Bersama seorang gadis yang kukenal, tersenyum manis pada kamera. Tiba-tiba rasa sakit itu menusuk-nusuk.
dari aku yang kini,
yang dulu pernah jadi kita.
Share:
Read More

Saturday, 20 February 2016

[Surat Cinta #21] Untuk Kamu yang Telah Bersama-Nya



Dear you,

Apa kabarmu disana? Aku yakin baik-baik saja, lebih baik dari aku disini. Karena aku yakin, Dia akan menjagamu dengan baik. Bukan begitu?

Waktu berjalan begitu cepat, tanpamu disampingku. Hingga tanpa aku sadari, dua tahun sudah kamu pergi. Pergi dari hidupku dan kehidupan ini.

Selama dua tahun ini, namamu masih selalu disebut dalam hatiku dan hati mereka yang mengenalmu. Sosokmu yang ramah, mudah bergaul dan sangat menyenangkan itu yang membuatmu selalu dikenangan dalam hati. 

Dua tahun ini bukan waktu yang mudah buatku, hidup tanpamu.

Masih terekam jelas dalam memoriku saat aku harus melepasmu pergi. Banyak air mata di mata dan hatiku. Perlu waktu yang lama buatku menyadari, kamu telah pergi bersama-Nya. Sampai-sampai mereka harus membujukku untuk melanjutkan hidupku, yang menurut mereka masih panjang.

Mereka yang datang dan pergi dari hidupku, tak mampu singgah terlalu lama. Karena hatiku masih milikmu. Kamu takkan tergantikan di hatiku. Kamu yang istimewa di hatiku. Tapi malam ini, ijinkan aku melepaskanmu dari hatiku. Bukan, bukan karena orang lain. Tak ada yang singgah dihatiku kali ini. Tapi aku hanya ingin melanjutkan hidupku, untuk sesuatu yang lebih baik. 

Tenang saja, hati ini masih milikmu dan akan selalu milikmu, hingga seseorang akan tinggal disana untuk selamanya. Dan aku rasa itu masih saangat lama.


Untuk kamu yang telah tenang bersama-Nya,
dari aku yang kau tinggal pergi.

Di depan batu nisanmu, 10 Agustus 2013 
Share:
Read More