Saturday, 26 December 2015

, ,

[Fiksi] Surat Untuk Pria Hujan

 
Dear pria hujan,
 
Aku menulis surat ini untukmu, bersama hujan yang belakangan ini sering mendatangi senjaku.

Apa kabar, Sayang? Ah, aku lupa. Kamu tak pernah suka basa-basi itu. Tapi semoga kamu baik-baik saja tanpaku. 
 
Bagaimana dengan kotamu? Apakah di sana juga sering hujan? Hujan yang mendendangkan lagu rindu yang membuatku mengigil.

Sayang, bolehkah aku bernostalgia dengan kenangan kita dulu?

Ingatkah kamu pada pertemuan pertama kita? Suatu siang yang panas di bulan Juli, kamu menyodorkan cappuccino dingin padaku. Entah dari mana kamu tahu minuman kesukaanku itu.

"Aku hanya menebaknya, Arum." Itu alasanmu waktu itu. Tapi dari mana kamu tahu namaku? Kamu seperti cenayang, membuatku merinding. Jangan-jangan kamu orang jahat. Namun sorot mata dan keteduhan wajahmu menepis prasangka burukku.

Share:
Read More

Friday, 25 December 2015

,

Buku yang Dibaca Tahun 2015


Tahun 2015 adalah tahun "mabuk buku" buat saya. Bukan buku fiksi, genre favorite yang saya baca tahun ini. Tapi buku-buku referensi sebagai rujukan skripsi. Maklumlah mahasiswa tingkat akhir memang harus banyak-banyak membaca buku referensi yang tebal-tebal itu, belum lagi karya ilmiah lainnya.

Jadi karena itu buku yang saya baca, diluar buku referensi, sedikit. Ini mah cuma alasan saya, toyor kepala sendiri. Hehehe. Berikut ini buku yang saya baca sepanjang tahun 2015. Silahkan disimak.

Share:
Read More

Saturday, 19 December 2015

, ,

[Cerpen] Selamat Tinggal, Jogja


Kupandangi sebuah foto berlatar senja di lorong stasiun. Foto kenangan kamu dan aku, semasa kita bersama. Tak akan pernah kulupakan masa-masa itu, masa indah bersamamu. Aku ingat duduk di kursi panjang bersama senja jingga menunggu keretamu datang.

Ketika peluit panjang itu berbunyi, kamu di pintu kereta melambaikan tangan padaku. Tak ada pelukan hangat, hanya senyum yang menentramkan hati. Kita keluar stasiun sambil bergandengan tangan. Tapi hujan tiba-tiba turun.

Kita berpandangan, mata kita beradu. Tanpa dikomando kita berlari di bawah hujan. Bukan mencari tempat berteduh, tapi menikmati hujan bersama. Basah kuyup kita berlarian menuju rumahmu dengan senyum terukir di bibir manismu. Kita tertawa.

Keesokan harinya, aku jatuh sakit. Apakah kamu masih ingat, betapa khawatirnya kau saat itu? Sampai-sampai kamu memaksaku pindah dari tempatku menginap dan membiarkanku tinggal di rumahmu. "Agar ada yang menjagaku," katamu. 
Share:
Read More

Friday, 18 December 2015

,

[FlashFiction] Bukan Milikku


"Vino?" Aku menoleh mendengar panggilan yang tak asing di telinga, seseorang yang juga tak asing di hidupku. "Hai, Vin. Apa kabar?" Dia mengambil duduk di depanku.

Aku masih seperti dulu. "Baik. Kamu apa kabar, Di? Mencoba membalas sapaannya seramah mungkin.

"Emm, baik Vin."

Apakah kamu benar-benar baik Di? Dengan mata sembab dan hidung memerah seperti itu? Tak tega rasanya melihatnya seperti ini. Namun aku sadar tak bisa lagi menyentuh dengan lembut pipi yang seperti bakpao itu. Kamu bukan milikku, Di.
Share:
Read More

Saturday, 12 December 2015

,

[Fiksi] Satu Detik Terlama


Langit mulai gelap. Sudah sejak beberapa jam lalu awam hitam keabuan terlihat di langit. Tapi belum ada satu tetes pun yang membasahi tanah.

Dulu hujan selalu datang tepat waktu. Di bulan yang berakhiran "ber", ia datang dan setia menemani hampir setiap hari. Tak peduli banyak orang yang mengutuk kedatangannya. Namun masih banyak pula yang menyambutnya sebagai rahmat Tuhan.

Kini sudah diawal bulan Desember, jangankan hujan, gerimis hanya sesekali datang. Itu pun hanya sebentar aja. Mungkin ia sudah mulai bosan selalu dikambinghitamkan oleh orang-orang.

Aku menjulurkan tangan, mencoba mencari tahu kedatangannya.
Share:
Read More

Friday, 11 December 2015

,

Mengapa Aku Berhijab?


Sore itu kami berkumpul lagi, aku dan beberapa sahabatku. Diantara kami, hanya aku yang sampai sekarang tetap mengenakan hijab. Waktu SMA kami semua memakai hijab, namun semenjak kuliah hanya aku yang konsisten memakai hijab. 

"Sekarang pakai hijab terus ya, Yas?" Seorang teman bertanya padaku.

"Bukannya dari dulu." Teman yang lain menimpal. Aku memang berjilbab sejak SD, karena dulu bersekolah di sekolah Islam. Aturan sekolah yang 'memaksaku' berhijab. Namun tak benar-benar berhijab, karena dulu memakai hijab hanya ke sekolah. Diluar sekolah masih suka pakai celana pendek dan kaos lengan pendek, tanpa jilbab.

Share:
Read More

Thursday, 10 December 2015

,

Kisah Perempuan Sederhana yang Kupanggil Ibuk


Tak banyak cerita tentang ibu yang bisa aku bagi. Tak ada kisah romantis antara anak perempuan dan ibunya. Atau cerita dramatis yang bisa membuat orang lain terharu hingga meneteskan air mata.

Ibuk, bukan pekerja kantor yang memiliki karier cemerlang. Ibuk, sosok sederhana dari seorang perempuan. Ibuk, perempuan yang sangat mengenal dapur, segala isi rumah, anak-anak dan suaminya.

Namun dari kesederhanaan Ibuk, ada satu hal yang membuatnya menjadi sosok mengagumkan bagiku. Ibuk yang selalu ada untukku, untuk kami, anak-anaknya.

Share:
Read More

Saturday, 5 December 2015

,

[Fiksi] Kau dan Aku Berbeda


"Selamat datang di Purple Coffe. Mau pesan apa?" Sapaan wajib kepada pelanggan Purple Coffe, tempatku bekerja.

"Biasa, Nan." Jawabnya tanpa melihat papan menu, lalu duduk di salah satu meja paling pojok. Pandangannya mengarah pada lobby yang lengang.

Namanya Rendra, pewaris grup Pandawa. Salah satu perusahaan yang menempati gedung ini. Aku mengenalnya karena keramahannya pada semua karyawan, juga senyum yang selalu menghiasi wajahnya.

Mas Bule, julukan yang aku sematkan padanya. Tiap orang yang melihatnya pasti mengira dia bule. Tapi jangan kaget jika mendengarnya bicara, medhok jawa. Katanya, dia bule yang nyasar lahir di Jogja.

Share:
Read More

Friday, 4 December 2015

Apa Tujuan Hidupku?


Setiap manusia memiliki sebuah jalan yang ia tapaki untuk menuju tujuannya. Seperti anak sekolah yang tiap hari berjalan menuju sekolahnya untuk belajar. Tapi tidak semua orang mengetahui tujuan hidupnya. Sebagian orang berjalan menuju tujuan yang sudah ia yakini. Sebagian lagi hanya berjalan, kemanapun kaki menuntun langkahnya.

Saya tak pernah benar-benar tahu apa tujuan hidupku, sampai seseorang bertanya. "Apa tujuan hidupmu?" Saya menggeleng, karena saat itu berada diantara dua jalan tapi tak benar-benar tahu tujuan kedua jalan itu.

Lalu dia bertanya lagi, "apa tujuan hidup manusia?"

"Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam."
- Qs. Al-An'am: 162
Share:
Read More