Thursday, 14 April 2016

, ,

[FlastFiction] Gelang Kupu-Kupu


Hujan sudah mulai reda, meninggalkan aroma tanah yang menyejukkan. Aku masih setia duduk di bangku taman, memandangi berbagai jenis ikan di dalam danau yang jernih.

"Hai," seseorang menyadarkan lamunanku. Aku menatapnya sejenak. Sepertinya baru pertama kali aku melihatnya di sekitar sini. 
 
"Aku memerhatikanmu dari tadi." Aku kembali menatap perempuan di sampingku, heran sekaligus curiga. "Aku penghuni baru di sini. Apartemen 203, tepat di depan apartemenmu.”

“Aku tertarik dengan benda yang ada di tangan kamu." Ahh, gelang ini. Gelang kupu-kupu pemberian Rama. Seseorang yang pernah membuatku pergi dari kota ini.

"Apa itu spesial?" Perempuan itu kembali bertanya. 
 
Aku mengangguk pelan, ragu-ragu. Masihkah ini spesial buatku? Ia masih terus memandangi gelang ini. Belum habis rasa penasarannya ternyata.

Aku melepasnya perlahan, seperti merelakan seseorang pergi. "Hanya hadiah dari teman. Kamu suka?" Dia mengangguk cepat. "Buat kamu aja sebagai salam perkenalan.” Aku mengulurkan tangan, “Kayla.”

"Aku Santi." Dia menjabat tanganku erat.

"Sayang, kamu ngapain di sini?" Suara itu, aku menoleh cepat.

"Rama." Aku terperanjat menemukan dia di belakangku, memandang tak berkedip padaku. Tunggu, Rama memanggilku sayang? Apa dia masih menyayangiku?

"Kenalan sama teman baru. Dia tinggal di depan apartemen kita, sayang." Jawaban Santi meruntuhkan semua mimpi yang baru kubangun. 

Continue reading [FlastFiction] Gelang Kupu-Kupu

Friday, 25 March 2016

, ,

[Review Buku] Jika Hujan Pernah Bertanya

“Tinggallah di sini lebih lama lagi. Bersamaku saja. Berbagi kesetiaan.” Hal 5


Judul Buku : Jika Hujan Pernah Bertanya 
Penulis : Robin Wijaya
Ilustrasi Sampul : Apung Donggala
Tata Letak : Husni Kamal
ISBN : 9786021258644
Penerbit : Matahari
Tahun Terbit : Februari, 2014
Tebal : 224 halaman
Genre : Romance, Kumcer
Rate : 4/5

Blurb

Aku tak pernah berpikir kalau segalanya akan berakhir padamu. Sejak dulu, sejak kali pertama kita bertemu, kau bukanlah satu-satunya yang kuanggap istimewa.

Kalau kubilang segalanya kebetulan, mungkin salah. Kalau kubilang itu karena takdir saja, mungkin tak selamanya benar. Ada hal lain, yang membuatku yakin dengan keputusanku. Kau melakukan sesuatu, yang mustahil bagi setiap orang.

Kau mencintaiku dengan hati, kau menatap mataku karena rasa, kau berucap dan melakukan semuanya bukan dengan kebanyakan cara yang mereka lakukan. Kau berbeda. Kau istimewa.

Bersamamu saja, aku yakin selamanya. Karena aku tahu, aku tak butuh wajah untuk dinikmati, aku tak butuh tawa untuk sekedar menyenangkan, apalagi penampilan yang bisa dibilang hanya memesonakan.

Ada yang lebih dari itu. Yaitu, hati dan kesetiaanmu. Bukankah tempat untuk mencintai secara pasti hanyalah ‘hati’? Bukankah dari ratusan kriteria yang aku cari sebagai sempurna, sebenarnya aku hanya perlu satu saja? Aku bukan mencari sesuatu yang lengkap, tapi pelengkap.

Kau, adalah tempat terbaik untuk berbagi. Seperti awan yang setia pada hujan.


Review

Jika Hujan Pernah Bercerita, kumpulan cerita pendek yang mengisahkan tentang kesetiaan. Setia pada orang yang dicintainya, walaupun seringkali orang itu tidak bisa dimiliki selamanya. Kesetiaan pada seseorang, sesuatu, atau bahkan prinsip yang dipegangnya.

Setiap cerita yang ditulis Robin Wijaya dalam buku ini menarik karena memiliki sudut pandang yang berbeda. Dikisahkan melalui karakter yang beragam dan gaya bercerita yang berbeda pula. Sebagian besar cerita dituliskan dengan tokoh utama perempuan.

Aku tertarik dengan buku ini karena judul dan covernya. Dua perahu kertas berwarna biru dan merah pada cover-nya mengingatkanku pada cover novel Perahu Kertas. Tapi selain itu ada seorang lelaki yang memegang payung dan siluetnya yang mereperentasikan hujan.

Terdiri dari 14 cerita, beberapa cerpen favoritku adalah Jika Hujan Pernah Bertanya, Di Satu Sudut Ruang Itu, Afternoon Delight dan Pertiwi.

Jika Hujan Pernah Bertanya. Cerita utama dalam kumpulan cerpen ini mengisahkan tentang Rahita dan Philip. Perkenalan tanpa sengaja yang kemudian berlanjut menjadi teman. Cerita yang merepresentasikan tentang kesetiaan dengan filosofi awan dan hujan.

“Kesetiaan seperti awan. Menemani hujan sepanjang zaman, tak tergantikan.” Hal 35

Di Satu Sudut Ruang itu. Cerita ini pernah dibagikan oleh penulis di akun Wattpadnya, Robin Wijaya. Tentang seorang barista yang memiliki pelanggan unik yang membuatnya tertarik. Seorang pria yang datang setiap hari Rabu malam dengan pakaian hitam dan rutinitas yang sama. Cerita ini menarik karena pembaca dibuat penasaran dengan kisah barista dan pria misterius itu. Aku kira hanya kisah cinta biasa, tapi aku dibuat terkejut dengan twist ending yang diberikan penulis.

“...karena kehadiranmu serupa bayang senja di penghujung hari. Yang selalu kuketahui begitu saja. Meski kedatanganmu seolah terjadwal di waktu yang sama.” Hal 60

Afternoon Delight. Ada perasaan sesak yang mendalam saat membaca kisah ini. Tentang si laki-laki dan si perempuan yang bertetangga dan tumbuh bersama. Kebersamaan yang membuat mereka saling mengerti perasaan masing-masing. Tapi mereka harus berpisah karena kepergian si perempuan.

“Teman adalah seseorang yang benar-benar bisa bicara dalam satu pikiran dengannya.” Hal 90

Pertiwi. Cerita tentang seorang jurnalis yang mewawancarai seorang ibu yang harus kehilangan anaknya saat kerusuhan 1998. Cerpen ini sukses membuatku menangis haru. Selain karena kisahnya berlatar peristiwa tahun 1998 itu, pembaca juga dibuat emosional dengan kehilangan yang dirasakan sang ibu.

“ Saya cinta negeri ini.” Hal 184

Kesetiaan pada pasangan yang sangat mengharukan ada dalam cerpen Belahan Jiwa. Sebuah cerita tentang cinta sejati, cinta yang hanya bisa dipisahkan oleh maut. Kisah Sarah yang takut kehilangan Jo suatu hari nanti. Dicerita itu tak ada dialog, hanya monolog tapi mampu membuat pembacanya merasakan arti kesetiaan dan takut kehilangan pasangan.

“Rasa percaya dan sebuah ruang nyaman adalah satu-satunya yang menjadi alasan mereka untuk bertahan dari waktu ke waktu.” Hal 83-84

Cerita lainnya dalam buku ini yaitu. Manusia Bodoh, Menjaga Ibu, Love Me Tender, Ruang Kecil, Cintaku Lelakiku, Cerita Tentang Jatuh Cinta, Senja, Di Atas Pelangi, Cinta Monyet, dan Cinta yang Bercakap-Cakap.

Quote Favorite

  1. “Tentang mereka yang selalu berjanji untuk berbagi waktu dan kesempatan. Meski tak selalu bahagia.” Hal 8
  2. “Kata kelak telah menjadi kosakata yang bermakna seperti pengharapan.” Hal 17
  3. “Aku percaya, yang terbaik dari seorang manusia bukan sekadar tumbuh dan berkembang, tapi membawa orang lain ikut berkembang juga. Hal 24
  4. “Sebagian besar orang tentu setuju kalau keakraban antara lelaki dan perempuan tak pernah benar-benar tanpa arti.” Hal 27
  5. “Karena manusia adalah mesin refleksi terbaik yang tak akan mampu menyembunyikan sesuatu yang paling rahasia.” Hal 28
  6. “Selalu ada kenangan dimana kamu tak ingin ia berlalu meninggalkanmu, meski segala yang disebut kenangan pasti tentang sesuatu yang sudah berlalu.” Hal 80
  7. “Karena yang terjadi pada kisah cinta, tak pernah ada bahagia tanpa cela.” Hal 81
  8. “Berteman tanpa alasan, tanpa tujuan, tanpa keharusan.” Hal 92
  9. “Pada akhirnya, tidak ada manusia yang benar-benar akan bersama selamanya.” Hal 99
  10. “Dan kalau memang rindu padanya, setialah pada harapanmu.” Hal 109
  11. “Bahagia adalah sebuah perasaan yang diciptakan oleh rasa percaya.” Hal 141
  12. “Kemewahan sering kali di dapat dari kesederhanaan.” Hal 141
  13. “Perbedaan antara ketergantungan dan cinta sangatlah tipis.” Hal 167 
Happy reading ^^
***

Continue reading [Review Buku] Jika Hujan Pernah Bertanya

Wednesday, 23 March 2016

,

[Wishful Wednesday #3] Tere Liye

Hola!

Bulan ini lagi reread (baca ulang) buku-bukunya Tere Liye, salah satu penulis favoritku. Suka sama novel-novelnya karena tidak melulu bercerita tentang cinta, ada yang menyinggung tentang politik, agama, bahkan genre fantasi. Tapi saat ngelirik rak buku, yang kupunya rata-rata bergenre romance dan fantasi. Daun yang Jatuh Takkan Membenci Angin, Sepotong Hati yang Baru, Pulang, Bumi, dan Bulan.

Reread kali ini aku lakukan karena belum bisa beli dua novel terbarunya Tere Liye yaitu Hujan dan Rindu. Dua buku yang jadi Wishful Wednesday-ku minggu ini.

Hujan – Tere Liye

Blurb

Tentang persahabatan
Tentang cinta
Tentang perpisahan
Tentang melupakan
Tentang hujan

Rindu – Tere Liye 

Blurb

"Apalah arti memiliki, ketika diri kami sendiri bukanlah milik kami?

Apalah arti kehilangan, ketika kami sebenarnya menemukan banyak saat kehilangan, dan sebaliknya, kehilangan banyak pula saat menemukan?

Apalah arti cinta, ketika menangis terluka atas perasaan yg seharusnya indah? Bagaimana mungkin, kami terduduk patah hati atas sesuatu yg seharusnya suci dan tidak menuntut apa pun?

Wahai, bukankah banyak kerinduan saat kami hendak melupakan? Dan tidak terbilang keinginan melupakan saat kami dalam rindu? Hingga rindu dan melupakan jaraknya setipis benang saja”

Rindu- Tere Liye. Lima kisah dalam sebuah perjalanan panjang kerinduan.
Selamat membaca


Semoga buku-buku itu bisa melengkapi koleksi buku dari Tere Liye :)

Buat kamu yang punya booklist atau wishlist yang berkaitan dengan buku, ayo share wishlist kamu dan ikutin rulesnya di blog Books to Share

Apa WW mu minggu ini?
  • Silakan follow blog Books To Share – atau tambahkan di blogroll/link blogmu =)
  • Buat posting mengenai buku-buku (boleh lebih dari 1) atau segala hal yang berhubungan dengan kebutuhan bookish kalian, yang jadi inceran kalian minggu ini, mulai dari yang bakal segera dibeli, sampai yang paling mustahil dan hanya sebatas mimpi. Oya, sertakan juga alasan kenapa buku/benda itu masuk dalam wishlist kalian ya!
  • Tinggalkan link postingan Wishful Wednesday kalian di Mr. Linky (klik saja tombol Mr. Linky di bagian bawah post). Kalau mau, silakan tambahkan button Wishful Wednesday di posting kalian.
  • Mari saling berkunjung ke sesama blogger yang sudah ikut share wishlistnya di hari Rabu =)
Continue reading [Wishful Wednesday #3] Tere Liye

Friday, 18 March 2016

,

[Review Buku] Jomblo Tawakal

“Bee nggak jomblo juga. Cuma kebetulan belum ada cowok yang beruntung mendapatkan Bee.” (Hal 116)

Judul Buku : Jomblo Tawakal
Penulis : Sindu L. Ismoyo
ISBN : 9789799115638
Penerbit : Media Pressindo
Tahun Terbit : 2016
Kota Terbit : Yogyakarta
Tebal : 180 halaman
Genre : Novel Komedi
Rate : 3/5
Stastus Buku : Buntelan dari penulisnya

Blurb

Beberapa hari terakhir, misi gue untuk mencari pacar mulai gue realisasikan. Setiap ada cowok ganteng yang lagi sendirian, selalu gue dekati.

Contohnya aja ketika gue berusaha mendekati cowok yang lagi makan bakso di kantin:

Gue : Hai, sendirian aja nih?
Cowok : Iya.
Gue : Tahu nggak? Di dunia ini ada banyak rasa lho. Ada rasa manis, pedes, asin, dan juga pahit. Tapi ada satu rasa yang nggak banyak orang tahu.
Cowok : Hmm... rasa apa?
Gue : Rasa cintaku padamu... *sambil mengerlingkan mata*
Cowok : *keselek bakso*

Meskipun jomblo, namun Bee pandai berkelit akan statusnya. Dia juga pintar mencari cara agar statusnya itu berganti menjadi in relationship. Karena itulah ia sering disebut sebagai jomblo tawakal. Tak pernah kehabisan akal.

Kegagalannya berhenti sebagai jomblowati bukan hanya karena muka yang pas-pasan, tetpu juga akibat kedua kakak Bee yang selalu ngerecokin kehidupan percintaan Bee. Padahal sejak awal masuk SMA, Bee udah bertekad pensiun sebagai jomblowati.

Mampukah Bee mewujudkan cita-citanya?


Review

Jomblo Tawakal, novel pertama dari Sindu L. Ismoyo, yang memadukan kisah cinta dan komedi. Dari covernya sudah terlihat jelas genre komedi dengan diberi label “buku gokil”, juga mampu merepresentasikan isi dari novel ini. Aku suka perpaduan warna pink dan ungu serta wajah cewek yang sedikit ngenes itu.

Novel ini menceritakan tentang tokoh Bianca, atau biasa dipanggil Bee, yang sejak lahir jomblo alias tidak pernah pacaran. Ia bertekad untuk mempunyai pacar saat SMA, maka sejak masa ospek dia memulai pencarian dan mendekati cowok-cowok ganteng.

“Itu dilema yang sangat dalam. Kalo dalam bahasa Alay Yang Disempurnakan menjadi dH4l3mM b3uudDdh cHuY.” (Hal 28)

Setelah melakukan pendekatan dengan beberapa cowok, yang kemudian gagal. Bee mulai mendekati Tamiras, sang ketua OSIS yang cool. Ia mulai mencari informasi tentang Tamiras, sampai bela-belain datang ke rumahnya. Kedatangan Bee ke rumah gebetannya itu yang kemudian membuat cerita ini semakin seru.

Selain usaha mendapatkan pacar, diceritakan hubungan Bee dengan dua kakaknya yang berbeda kepribadian, juga hubungan dengan keluarga, kakak senior, dan kucingnya. Menurutku, cerita tentang kucingnya yang bernama Anca ini yang paling lucu.

“Gue lupa kalo ada sesuatu yang harus gue lakukan: membahagiakan kedua orang tua gue.” (Hal 165)

Yang menarik dalam novel ini, tokoh utamanya dijelaskan terlebih dahulu di awal cerita. Aku sebagai pembaca, bisa membayangkan bagaimana sosok dan karakter tokoh-tokoh dalam novel Jomblo Tawakal ini. Seperti kak Tiwi, kakak pertama Bee yang tomboy dan kakak keduanya, Dora yang seorang fashionista. Emak yang jago main bola, Babe yang suka nonton sinetron, Anca si kucing tetangga yang jadi peliharaan Bee, kakak senior Bee di sekolah, sampai gebetannya, Tamiras.

Novel Jomblo Tawakal merupakan bacaan yang ringan, menggunakan alur maju yang mudah dimengerti. Mendekati ending, agak kecewa dengan kemajuan hubungan Tamiras dengan Bee. Tapi aku suka dengan endingnya, penyelesaian yang baik menurutku.

“Mungkin dengan melihatnya bahagia adalah cara gue mencintainya.” (Hal 170)

Kalau bisa ketemu langsung dengan penulis novel Jomblo Tawakal ini, aku mau berterima kasih. Kak Sindu L. Ismoyo sudah mengadakan giveaway berhadiah novel Jomblo Tawakal di blognya. Sebagai quiz hunter yang sering ikut giveaway dan lomba blog tapi nggak pernah menang. Rasanya seneng banget akhirnya dapat novel dari giveaway.

Terima kasih kak Sindu :)

Biasanya setelah membaca novel aku menemukan banyak quotes favorit, sampai bingung mana yang mau dimasukkan dalam review buku. Tapi kali ini aku tidak banyak menemukan kutipan-kutipan favorit di novel Jomblo Tawakal ini, karena terlalu serius baca cerita Bee sambil ketawa guling-guling.

Happy reading ^^

***

Continue reading [Review Buku] Jomblo Tawakal

Friday, 11 March 2016

, ,

[Cerpen] Goodbye


“Aku sudah di Jogja.”

Aku sedang menunggu dosen pembimbingku saat dia mengirim pesan itu. Pesan singkat yang membuat waktu menungguku jadi terasa lebih lama. Sangat lama.

“Aku mau bertemu dengan dosen pembimbingku dulu, kamu bisa menunggu?” Tak lama berselang ia membalasnya dengan sangat singkat. “Oke.”

Ahh, lagi-lagi waktu mempermainkanku. Empat tahun aku menunggunya kembali ke Jogja. Mengapa lagi-lagi aku harus menunggu saat ia sudah di sini? Aku mengulas senyum menyadari ketidaksabaranku.

Bayanganku kembali pada masa-masa indah itu, bersama Arka.

Ya, Arka.

Aku mengenalnya sejak memakai seragam putih abu-abu. Sosoknya yang tinggi di atas rata-rata menarik perhatianku. Perkenalan kami di klub musik berlanjut di luar sekolah. Dia yang terlihat pendiam, ternyata menyimpan banyak senyum dan tawa.

Tawanya yang nyaring membuat orang-orang di sekitarnya ikut tertawa. Tawa yang kemudian selalu menghiasi hari-hariku. Menarik segala perasaan duka dan membuatku tersenyum sepanjang hari.

Setelah lulus SMA, aku melanjutkan kuliah di Jogja. Sedangkan Arka memutuskan ke Belanda untuk mengejar mimpi besarnya yang lebih terbuka lebar di sana.

Tak mudah menjalani hubungan jarak jauh. Sekalipun dengan segala teknologi yang canggih. Bertatap muka secara langsung dan merasakan kehadirannya di sampingku adalah hal yang kurindukan.

Hari ini, aku dan Arka berjanji untuk bertemu.

Setelah menyelesaikan kuliahnya, ia kembali ke Jogja. Kami akan menelusuri lagi kota yang penuh kenangan. Kota kelahirannya. Kota yang mempertemukan aku dan dia. Kota yang menjadi kota kita.

***

Setelah menyelesaikan urusan dengan dosen, aku bergegas pulang ke rumah. Tak sabar rasanya melihat wajahnya setelah lama tak bertemu. Masih samakah seperti empat tahun lalu?

Ahh, Arka.

Aku senyum-senyum sendiri membayangkannya.

Aku segera turun saat bus sampai di halte dekat rumah. Langkahku terhenti ketika melihat Arka di sana. Dia menungguku. Aku memandangnya tanpa berkedip. Empat tahun tak bertemu, aku masih bisa mengenalinya dengan baik. Kami masih saling berhubungan lewat pesan, foto-foto yang dikirim dan video call.

Dengan celana jeans favoritnya dan kaos abu-abu, ia berjalan menghampiriku. Wajahnya penuh tawa. “Sudah lama nunggu?” tanyaku berbasa-basi.

“Sudah dua jam aku di sini. Jadi donor darah buat nyamuk-nyamuk nakal itu, sampai digodain cewek-cewek abg di ujung sana.” Aku tak bisa menahan tawa dari leluconnya. Saat itu juga aku menyadari, ia masih Arka-ku yang dulu.

Aku berada di sebelahnya, berjalan di samping Arka. Kami melangkah menyusuri jalanan menuju ke rumahku. Ketika sampai di taman dekat rumah, aku menarik tangannya memaksanya singgah di taman itu.

“Main ayunan yuk,” pintaku.

“Kebiasaan lama tidak bisa diubah ya?” ledek Arka.

“Nggak ada larangankan kalau orang dewasa nggak boleh main ayunan?” aku meliriknya tajam, tapi ia sudah duduk duluan di ayunan itu.

Dia masih Arka yang dulu. Lebih banyak bertindak dari pada berkata. Kata-katanya keluar hanya untuk membuat lelucon yang lebih sering garing, tapi selalu bisa membuatku tertawa. Mungkin ia lebih cocok jadi komika, jadi aku bisa melihatnya lebih sering lewat layar televisi.

“Akhirnya kamu kembali, Ka?” Tanyaku pelan. “Setelah empat tahun kamu pergi dan berulang kali aku meminta?”

Arka tidak menjawab, ia hanya menatapku. Lalu berpaling menatap ujung sepatunya, matanya meredup. Perasaan asing menyusup dalam hatiku. Tatapan mata yang tak aku mengerti.

“Ingat saat pertama kali ke sini?”

“Ya.” Arka mengangguk. “Enam tahun lalu.”

“Enam tahun bersama, empat tahun terpisah jarak dan perlahan mulai berubah.”

“Semua orang pasti berubah, Rania. Tidak ada yang stagnan di dunia ini. Termasuk kita yang akan berubah seiring waktu.”

“Tapi tidak dengan cinta, Ka.” Aku menyentuh punggung tangannya.

Arka mengenggam tanganku perlahan. “Rania, cinta seperti apa yang kamu maksud? Cinta kita tak pernah berubah. Aku masih menyayangimu seperti dulu.”

Aku menatap matanya yang selalu berbinar. Mata dan ekspresi wajah yang dari dulu tak pernah bisa kutebak. Membuatku sulit mengartikan perasaannya padaku.

“Seperti empat tahun lalu. Seperti enam tahun yang lalu. Rania, aku menyayangimu. Cinta dari seorang sahabat.”

Cinta dari seorang sahabat, itu juga yang Arka katakan saat terakhir kami bicara. Setelah itu, dia tak lagi membalas pesan dan telponku. Kami terputus. Berulang kali aku memintanya kembali ke Jogja.

***

Rintik hujan mulai turun dan membasahi baju yang kami pakai. Hembusan angin yang terasa dingin, membuatku membeku di sini. Lama kami terdiam, menikmati gerimis. Juga menikmati satu-satunya waktu yang kami miliki.

“Aku tidak akan kembali ke Jogja...” kata Arka.

Aku berdiri, menatap matanya yang bening. Setetes butiran bening membasahi pipiku, bercampur dengan gerimis yang berubah menjadi hujan. Seperti ada petir yang menyambar hatiku.

Arka membalas tatapanku. Kami berdiri berhadapan, kurasakan tubuhku bergetar. Lalu ia menarikku dalam pelukkannya. Membiarkan hujan yang semakin derat mengguyur tubuh kami. Di sinilah aku harus merelakannya pergi.


Continue reading [Cerpen] Goodbye

Thursday, 10 March 2016

,

[Wishful Wednesday #2] Baca Bukunya Nonton Filmnya


Hola! 

Belakangan ini mulai marak film-film yang diadaptasi dari buku, baik buku-buku fiksi maupun non-fiksi seperti biografi. Dalam dunia sastra hal ini disebut Ekranisasi. Aku bakal bahas ekranisasi di postingan selanjutnya ya.

Nah, sebelum film-film adaptasi dari buku yang bakal tayang tahun ini, rasanya wajib beli bukunya. Untuk itu, ini buku-buku yang masuk booklistku dan ingin aku beli segera. Atau ada yang berniat memberikan buntelan buku? Silahkan :)

Sabtu Bersama Bapak – Adhitya Mulya  

Blurb

“Hai, Satya! Hai, Cakra!” Sang Bapak melambaikan tangan.
“Ini Bapak.
Iya, benar kok, ini Bapak.
Bapak cuma pindah ke tempat lain. Gak sakit. Alhamdulillah, berkat doa Satya dan Cakra.


Mungkin Bapak tidak dapat duduk dan bermain di samping kalian.
Tapi, Bapak tetap ingin kalian tumbuh dengan Bapak di samping kalian.
Ingin tetap dapat bercerita kepada kalian.
Ingin tetap dapat mengajarkan kalian.
Bapak sudah siapkan.

Ketika punya pertanyaan, kalian tidak pernah perlu bingung ke mana harus mencari jawaban.
I don’t let death take these, away from us.
I don’t give death, a chance.

Bapak ada di sini. Di samping kalian.
Bapak sayang kalian.”

Ini adalah sebuah cerita. Tentang seorang pemuda yang belajar mencari cinta. Tentang seorang pria yang belajar menjadi bapak dan suami yang baik. Tentang seorang ibu yang membesarkan mereka dengan penuh kasih. Dan…, tentang seorang bapak yang meninggalkan pesan dan berjanji selalu ada bersama mereka.
 


Buku ini terbit tahun 2014 dan sudah ramai di review oleh blogger buku saat itu. Beberapa hari yang lalu GagasMedia sudah mengeluarkan daftar buku yang akan difilmkan tahun 2016, salah satunya novel Adhityas Mulya ini. Penulisnya sendiri juga sudah posting poster filmnya.

Semoga bisa baca novelnya sebelum nonton filmnya :)
Continue reading [Wishful Wednesday #2] Baca Bukunya Nonton Filmnya

Saturday, 5 March 2016

Oliver Twist dan Sebuah Makhluk Mungil


Hola March!

Setelah maraton menulis surat-surat cinta di project #30HariMenulisSuratCinta bulan Februari kemarin, aku berhenti menulis beberapa hari. Merefresh otak dan hati, ehh :D
Tulisan ini bukan review buku. Hanya cerita tentang buku-buku pertama yang aku baca dan berkesan, hingga aku menjadi suka membaca novel.

Buku pertama yang aku baca, selain buku sekolah, adalah buku-buku tentang cerita rakyat dan cerita anak lainnya. Pada jamanku belum ada tuh KKPK (Kecil-Kecil Punya Karya) yang ada buku cerita anak dan cerita rakyat yang ditulis oleh orang dewasa.

Ada buku tentang Ande-Ande Lumut, Jaka Tarub, Dewi Grafitasi, cara membuat tahu, dan cerita lainnya. Buku yang aku baca saat itu random, tidak merujuk pada genre tertentu. Karena tergantung dengan buku yang dibawa pulang bapak dari tempat beliau mengajar.

Tapi sayang kebiasaan membaca buku itu tidak menular ke dua jagoan bapak lainnya. Buku-buku itu hanya disimpan di lemari buku. Saat aku pindah ke rumah yang aku tempati sekarang, buku-buku itu terpaksa ditinggal. Karena keterbatasan tempat.

Untungnya ada dua buku yang aku bawa. Dua buku ini sangat berkesan buatku. Sebuah novel terjemahan karya Charles Dickens berjudul Oliver Twist dan novel romance Sebuah Makhluk Mungil dari Katyusha.

Versi Asli

Dua buku yang masih tersimpan di rak bukuku, tapi dengan kondisi yang agak memprihatinkan. Pinggiran cover buku Oliver Twist sudah rusak dengan lipatan dimana-mana, tapi kertasnya masih bagus. Sedangkan Sebuah Makhluk Mungil, bahkan tidak mempunyai cover asli. Akhirnya aku ganti dengan kertas kado. Kertasnya juga sudah kecoklatan dengan noda bekas air.

Novel Oliver Twist bercerita tentang seorang anak yatim piatu yang malang. Dia ditinggal mati oleh ibunya di sebuah panti asuhan. Kemudian hidup berpindah-pindah dari panti asuhan satu ke panti asuhan lainnya. Tapi sayang dia diperlakukan dengan tidak baik. Sampai dia kabur ke London dan bertemu dengan kompolan pencuri. Hingga akhirnya dia mengetahui tentang silsilah keluarganya.

Novel Sebuah Makhluk Mungil mengkisahkan tentang seorang cewek pindahan dari Inggris yang bertubuh mungil. Di sekolah barunya ia berteman dengan Dani. Novel ini bercerita seputar sekolah, dunia Kati, Dani, dan hubungan di antara mereka.

Novel itu juga yang membuatku menyukai novel-novel bergenre romance.
Continue reading Oliver Twist dan Sebuah Makhluk Mungil